
Masyarakat Kabupaten Gowa tersebar di dua wilayah besar yaitu masyarakat yang mendiami dataran rendah dan dataran tinggi. Masyarakat yang mendiami dataran tinggi cenderung homogen, baik dari segi bahasa maupun etnis adalah Makassar. Homogenitas masyarakat juga tercermin dari aspek agama. Mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Korelasi yang signifikan untuk menjelaskan keberadaan Islam sebagai lembaga agama mayoritas dapat dijelaskan dari segi aspek material dan praktik keagamaan yang ditemukan di daerah ini. Dari segi material, hampir setiap desa memiliki bangunan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Masjid selanjutnya menjadi ukuran material penting dalam menjelaskan aktivitas keagamaan umat. Selain masjid, berbagai kegiatan keagamaan (ibadah) Islam, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah, semakin memperkuat praktik keagamaan Islam di kawasan ini.
Bagi umat Islam, sedekah menjadi amalan penting sebagai wujud rasa syukur atas segala yang telah dan dimilikinya atas anugerah Allah SWT. Konsep berbagi atau merawat sesama (filantropi) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari amalan sedekah. Merujuk pada konteks sedekah dalam prosesi kematian sebagai sesuatu yang “wajib” menjadi menarik bila dihubungkan dengan wujud atau wujud sedekah yang dikeluarkan. Bagi masyarakat dataran tinggi Gowa, konsep sedekah yang diyakini dalam prosesi kematian adalah memberikan sebagian atau seluruh milik almarhum yang telah meninggal kepada orang lain. Selanjutnya subjek penerima sedekah berikutnya dipersempit, seolah-olah yang berhak menerima sedekah adalah pemuka agama (perseorangan) atau yang dilembagakan yaitu pendeta desa atau desa yang secara khusus memimpin prosesi kematian dari prosesi jenazah hingga penguburan. ke kuburan.
Konteks sedekah umum berkaitan dengan materi tertentu yang diberikan oleh satu orang kepada orang lain. Aspek material dan jumlah sedekah juga sangat spesifik bagi masyarakat dataran tinggi Gowa. Materi sedekah dalam prosesi maut umumnya berupa kasur, bantal, keset, tempat tidur, alat masak, hingga sepeda motor. Bentuk materi sedekah ini cukup unik, karena semua materi yang ditawarkan cenderung tidak memiliki materi yang sudah dimiliki sebelumnya, melainkan diadakan pada saat musibah maut menimpa keluarganya. Lebih dari itu jumlah sedekah dan kualitas materinya juga sangat bervariasi, hal ini tergantung seberapa mampu keluarga merealisasikan materi sedekah tersebut. Dalam konteks ini, unsur “gengsi” atau “malu” (baca: sirri dalam bahasa Makassar) sudah melekat dalam pikiran sadar individu dalam masyarakat, saat menjelaskan hal tersebut.
selanjutnya https://www.atlantis-press.com/proceedings/icss-19/125927150