Diklat 1 HMJ MD 2024 (Menciptakan Regenerasi Yang Berkompeten Serta Memiliki Semangat Tinggi Dalam Mengembangkan HMJ MD Kedepannya)

Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah (HMJ MD) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah sukses menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1 pada tanggal 24 hingga 27 Oktober 2024. Bertempat di kampus 2 IAIN Sultan Amai Gorontalo, acara ini mengusung tema “Menciptakan Regenerasi yang Berkompeten serta Memiliki Semangat Tinggi dalam Mengembangkan HMJ MD ke Depannya”.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa baru jurusan Manajemen Dakwah, didukung oleh panitia yang terdiri dari pengurus HMJ MD, dan beberapa alumni. Diklat ini bertujuan untuk mencetak kader-kader baru yang siap berkontribusi dalam pengembangan HMJ MD sekaligus memperkuat karakter kepemimpinan dan semangat berdakwah.

Acara dimulai pada Kamis pagi, 24 Oktober 2024, dengan pembukaan resmi di aula utama Villa Hijau Lestari. Ketua HMJ MD, Tri Salsa Inadjo, dalam sambutannya menekankan pentingnya regenerasi dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan organisasi.

“Regenerasi adalah kunci keberlanjutan sebuah organisasi. Melalui Diklat 1 ini, kami berharap dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki semangat tinggi dalam berdakwah dan membangun HMJ MD menjadi lebih baik,” ujar Tri Salsa.

Sambutan dilanjutkan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, yang diwakilkan oleh Wakil Dekan 3, Dr. Sahmin I. Madina, S.Sos., M.Si, yang mengapresiasi inisiatif HMJ MD dalam mengadakan Diklat 1. Beliau menekankan bahwa pelatihan ini adalah langkah awal yang penting untuk membentuk mahasiswa baru menjadi individu yang memiliki karakter kuat dan visi yang jelas.

“Diklat ini adalah kesempatan emas bagi kalian untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat jati diri dan semangat dakwah,” kata Dr. Sahmin.

Pada hari kedua, Jumat, 25 Oktober 2024, fokus kegiatan beralih pada pengembangan kepemimpinan dan penguatan karakter. Sesi pagi dimulai dengan outbound games yang dirancang untuk melatih kekompakan, komunikasi, dan kepemimpinan peserta.

Salah satu permainan yang menarik perhatian adalah Trust Walk, di mana peserta diajak untuk bekerja sama dan saling percaya dalam menyelesaikan tugas. Kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran tentang pentingnya saling mendukung dalam sebuah tim.

Sabtu, 26 Oktober 2024, menjadi hari yang penuh makna dengan fokus pada penguatan spirit dakwah. Acara dimulai dengan morning talk yang membahas pentingnya menjaga niat dan keikhlasan dalam berdakwah

Setelah itu, peserta mengikuti sesi role play yang mensimulasikan berbagai situasi dalam dunia dakwah. Dalam sesi ini, peserta belajar bagaimana menghadapi berbagai tantangan, seperti menanggapi kritik, menyelesaikan konflik, dan berkomunikasi dengan audiens yang beragam.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi refleksi bersama, di mana peserta diminta untuk merenungkan perjalanan mereka selama diklat. Banyak peserta yang mengaku mendapatkan pelajaran berharga, baik dalam aspek pribadi maupun sosial.

Hari terakhir, Minggu, 27 Oktober 2024, menjadi momen untuk menanamkan komitmen peserta sebagai kader baru HMJ MD. Acara dimulai dengan pembacaan ikrar kader HMJ MD yang dipimpin oleh Ketua HMJ MD.

Kegiatan Diklat 1 HMJ MD 2024 berhasil memberikan pengalaman berharga bagi para peserta. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang organisasi dan dakwah, tetapi juga dilatih untuk menjadi individu yang kompeten dan berkarakter. Dengan semangat yang telah ditanamkan selama empat hari, para peserta kembali ke kampus dengan visi dan motivasi baru. Diklat 1 HMJ MD 2024 menjadi bukti nyata bahwa regenerasi organisasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan dakwah di kalangan mahasiswa. (humas)

Bedah Buku (Beginilah Aktivis Dakwah)

17 Oktober 2024, Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah (HMJ MD) Universitas Islam Jakarta menyelenggarakan kegiatan bedah buku yang mengupas karya inspiratif bertajuk “Beginilah Aktivis Dakwah”. Acara ini berlangsung di taman kampus IAIN SAG, Dengan mengusung tema “Menghidupkan Jiwa Dakwah dalam Generasi Muda”, kegiatan ini bertujuan untuk menggugah semangat dakwah generasi muda dalam berbagai lini kehidupan.

Acara dimulai pukul 15.00 WIB, Sesi utama dimulai dengan paparan dari Kak Tutun Muda

“Menjadi aktivis dakwah bukanlah perkara mudah. Ada banyak tantangan, mulai dari menjaga keikhlasan niat hingga menghadapi stigma dari masyarakat. Namun, dakwah adalah tugas mulia yang harus diemban oleh setiap Muslim, karena ini adalah amanah yang diwariskan langsung oleh Rasulullah SAW,” jelas Kak Tutun.

Dalam sesi bedah buku, Kak Tutun memaparkan beberapa poin penting dari isi bukunya, antara lain, Keikhlasan Sebagai Pondasi Dakwah Dalam buku ini, kak tutun menekankan bahwa keikhlasan adalah fondasi utama bagi seorang aktivis dakwah. Dakwah yang dilakukan tanpa keikhlasan hanya akan menjadi aktivitas yang sia-sia dan tidak membawa keberkahan.

Pentingnya Ilmu dalam Dakwah Aktivis dakwah harus memiliki bekal ilmu yang memadai agar pesan yang disampaikan tidak menyesatkan. “Dakwah tanpa ilmu adalah ibarat pelita yang redup. Kita harus terus belajar dan menggali ilmu, baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun pengalaman hidup,” ungkapnya.

Dinamika Dakwah di Era Modern Buku ini juga membahas tantangan dakwah di era modern, seperti maraknya disinformasi, radikalisme, dan tantangan media sosial. Aktivis dakwah diharapkan mampu bersikap bijak dan adaptif dalam menghadapi berbagai situasi ini.

Menjaga Konsistensi dan Semangat Aktivis dakwah sering kali menghadapi kelelahan fisik dan mental. Kak Tutun memberikan tips praktis untuk menjaga konsistensi dan semangat, seperti memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah, memperbanyak silaturahmi dengan sesama aktivis, dan terus memotivasi diri dengan kisah-kisah inspiratif para ulama. Sesi diskusi interaktif menjadi momen yang paling dinanti peserta. Banyak peserta yang antusias mengajukan pertanyaan kepada Kak Tutun, mulai dari cara menghadapi kritik di media sosial hingga strategi dakwah di lingkungan yang kurang mendukung.

Bedah buku ini tidak hanya berhasil memperkenalkan karya “Beginilah Aktivis Dakwah”, tetapi juga memberikan inspirasi dan motivasi bagi generasi muda Muslim untuk terus berkontribusi dalam dakwah Islam. Dengan respons positif dari peserta, HMJ Manajemen Dakwah berencana untuk menggelar lebih banyak kegiatan literasi dakwah di masa mendatang. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang menjaga niat, ilmu, dan semangat dalam setiap langkah. Seperti yang disampaikan dalam buku ini, “Menjadi aktivis dakwah adalah jalan untuk mendekat kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.”

Majelis Rutinan (Pembacaan Maulid Simtudduror) 2

10 Oktober 2024, suasana khidmat menyelimuti Masjid Kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo. Himpunan Mahasiswa Jurusan Dakwah menggelar kegiatan Majelis Rutinan dengan agenda utama Pembacaan Maulid Simtudduror, sebuah kitab maulid yang menggambarkan keagungan Nabi Muhammad SAW. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah.

Majelis Rutinan ini merupakan tradisi bulanan yang telah diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Dakwah sejak beberapa tahun terakhir. Namun, edisi khusus bulan ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Acara dimulai pukul 19.30 WIB dengan shalat Isya berjamaah  Puncak acara adalah pembacaan Maulid Simtudduror yang dipimpin oleh almaarif siduru, Beberapa Setelah pembacaan Maulid Simtudduror,

Dengan berakhirnya acara sekitar pukul 22.30 WIB, para peserta pulang dengan hati yang penuh rasa syukur dan semangat baru. Mereka membawa pesan penting untuk terus meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dan menjadikan cinta kepada Rasulullah sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Majelis Rutinan dengan pembacaan Maulid Simtudduror ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah momen refleksi spiritual yang mendalam. Acara ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, cinta kepada Rasulullah tetap menjadi hal yang hidup dan berakar kuat di hati umat Islam. (humas)

Kajian Keperempuanan (Pengaruh Media Sosial Terhadap Identitas dan Kesehatan Mental Perempuan)

6 Oktober 2024, Departemen Kajian Keperempuanan Himpunan Mahasiswa Universitas Islam Jakarta menyelenggarakan diskusi bertajuk “Pengaruh Media Sosial Terhadap Identitas dan Kesehatan Mental Perempuan”. Acara ini bertujuan untuk mengupas bagaimana penggunaan media sosial yang intensif memengaruhi pembentukan identitas diri perempuan serta dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Dengan mengundang akademisi, praktisi, dan aktivis perempuan sebagai pembicara, kajian ini menjadi ajang refleksi kritis sekaligus pemberdayaan perempuan di era digital.

Kegiatan yang diadakan di taman kampus IAIN SAG tersebut dihadiri mahasiswa. Dengan kegiatan ini berhasil menggugah kesadaran akan tantangan yang dihadapi perempuan di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin masif.

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Perempuan, khususnya, merupakan salah satu pengguna terbesar berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter. Meski menawarkan banyak peluang untuk ekspresi diri dan komunikasi, media sosial juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal pembentukan identitas dan kesehatan mental.

Dalam diskusi, Pemateri menyoroti bagaimana media sosial sering kali memperkuat budaya perbandingan di kalangan perempuan. “Kita perlu memahami bahwa apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Sebagai perempuan, kita harus lebih kritis terhadap konten yang kita konsumsi dan fokus pada apa yang benar-benar penting untuk diri kita,” katanya.

berbagi pengalaman pribadinya sebagai content creator. Ia mengakui bahwa tekanan untuk selalu terlihat sempurna di media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental. “Saya pernah berada di titik di mana saya merasa harus terus mengikuti standar tertentu untuk diterima di dunia maya. Tapi sekarang saya belajar untuk lebih autentik dan memprioritaskan kesejahteraan saya,” ungkapnya.

Sesi tanya jawab yang diadakan di akhir acara menjadi momen yang sangat interaktif. Peserta, mahasiswi, menyampaikan berbagai pertanyaan dan pengalaman pribadi mereka terkait pengaruh media sosial.

“Kami berharap para peserta, khususnya perempuan, dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Kita harus bisa memanfaatkan teknologi ini untuk pemberdayaan, bukan untuk membebani diri kita dengan standar yang tidak realistis,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, HMJ juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan di era modern. Acara ini menjadi langkah nyata dalam mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sekaligus menguatkan identitas perempuan yang autentik di tengah era digital. Dengan respons positif dari peserta, kajian ini membuktikan bahwa isu keperempuanan di era digital sangat relevan untuk diangkat. Harapannya, perempuan Indonesia dapat semakin percaya diri, kritis, dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman. (humas)

Kajian Advokasi (Menggalih Kebenaran dari Peristiwa G30SPKI)

2 Oktober 2024, Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen dan Dakwah (HMJ MD) mengadakan sebuah kajian advokasi bertajuk “Menggalih Kebenaran dari Peristiwa G30S/PKI” di taman kampus IAIN SAG. Kegiatan yang digelar untuk memperingati peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia ini bertujuan untuk menggali kebenaran di balik tragedi berdarah yang terjadi pada 1965, serta menyelami berbagai perspektif dalam memahami dampaknya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kajian ini dihadiri oleh mahasiswa jurusan. Tema yang diangkat pada kajian ini mencerminkan keinginan HMJ MD untuk memberikan ruang diskusi yang konstruktif dan mendalam mengenai peristiwa yang hingga kini menjadi topik kontroversial dan penuh perdebatan

Peristiwa G30S/PKI adalah salah satu babak kelam dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada 30 September 1965. Sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh Gerakan 30 September (G30S) yang berujung pada pembunuhan enam jenderal dan satu perwira tinggi Angkatan Darat, serta penggulingan pemerintahan Presiden Soekarno. Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya bertanggung jawab dan bagaimana seharusnya peristiwa ini dikenang.

HMJ MD menganggap bahwa kajian mengenai G30S/PKI sangat penting untuk dilakukan, terutama bagi generasi muda yang mungkin hanya mengenal peristiwa ini melalui cerita yang terbatas atau bahkan bias. Dengan menggali fakta dan mengedukasi mahasiswa tentang berbagai perspektif yang ada, diharapkan kajian ini dapat membentuk sikap yang objektif dan cerdas dalam menyikapi sejarah.

Kajian Advokasi ini bertujuan untuk membangun kesadaran di kalangan mahasiswa tentang pentingnya memahami sejarah secara komprehensif, tanpa terjebak dalam satu pandangan yang sempit. Selain itu, kajian ini juga diharapkan dapat menjadi wahana untuk mempererat hubungan antar-mahasiswa, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam menjaga keutuhan bangsa.

Kegiatan dimulai dengan pemaparan sejarah tentang G30S/PKI oleh Zakaria,

Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab yang melibatkan mahasiswa. Mahasiswa terlihat antusias dalam bertanya mengenai berbagai aspek peristiwa G30S/PKI, baik yang berkaitan dengan sejarah, politik, maupun dampak sosialnya. Banyak peserta yang mengungkapkan rasa penasaran mereka tentang berbagai versi peristiwa tersebut dan berharap bisa mendapatkan jawaban yang lebih jelas.

Dengan adanya kajian ini, HMJ MD berharap mahasiswa dapat lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang di masyarakat. Mereka ingin agar generasi muda tidak hanya terjebak dalam narasi yang berkembang, tetapi juga mampu melakukan kajian lebih mendalam untuk menemukan kebenaran sejarah yang sesungguhnya. Kegiatan ini juga menjadi contoh bagaimana kajian advokasi dapat memperkaya wawasan dan pemahaman mahasiswa dalam menyikapi isu-isu besar yang memengaruhi bangsa. Dengan menggalih kebenaran dari peristiwa G30S/PKI, diharapkan mahasiswa dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (humas)