Kajian Keorganisasian (Membangun Rasa Tanggung Jawab Dalam Berorganisasi)

22 Juni 2023, sebuah kegiatan bertajuk “Membangun Rasa Tanggung Jawab dalam Berorganisasi” diselenggarakan di Taman Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo. Kegiatan ini terdiri dari Himpunan Mahasiswa jurusan Mahasiswa Dakwah, kajian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai tanggung jawab dan komitmen dalam berorganisasi. Kegiatan dimulai pada pukul 15.45 WIB, Kegiatan ini menghadirkan pembicara utama yang memiliki pengalaman luas di bidang keorganisasian. yaitu Kak Akmalul Muslimin katili S.Sos.

Kak Akmalul Katili S.Sos mengulas tentang pentingnya rasa tanggung jawab sebagai pilar utama dalam berorganisasi. Beliau menjelaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya terbatas pada menjalankan tugas, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan.

“Seorang anggota organisasi yang bertanggung jawab akan selalu memikirkan dampak dari setiap keputusan yang diambil. Mereka tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses dan keberlanjutan organisasi,” jelasnya. Beliau juga memberikan contoh konkret dari berbagai organisasi sukses yang mampu bertahan karena anggotanya memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Setelah sesi pemaparan, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan di organisasi.

Kajian keorganisasian ini memberikan dampak positif bagi seluruh Mahasiswa. Dengan materi yang komprehensif dan diskusi yang interaktif, kegiatan ini berhasil membangun kesadaran akan pentingnya tanggung jawab dalam berorganisasi.  Dengan menginternalisasi nilai tanggung jawab, diharapkan para peserta dapat membawa perubahan positif di lingkungan organisasi mereka, menciptakan budaya kerja yang lebih produktif, kolaboratif, dan berintegritas. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan keorganisasian dapat menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih baik. (humas)

Kajian Himpunan: Mendidik dari Akar Rumput

19 Juni 2023, kegiatan Kajian Himpunan yang bertajuk “Mendidik dari Akar Rumput” berlangsung di taman kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa. kajian ini bertujuan untuk memberikan wawasan baru sekaligus mendorong aksi nyata dalam menciptakan perubahan dari tingkat paling dasar. Kegiatan dimulai pukul 16.00 WITA, Kajian ini menghadirkan pembicara yang merupakan Alumni Jurusan Manajemen Dakwah yaitu kak safira rumampuk.

Sebagai pembicara Kak Safira Rumampuk memaparkan teori dan strategi dalam pendidikan akar rumput. Beliau menjelaskan bahwa pendidikan berbasis komunitas tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan literasi, tetapi juga membangun kesadaran kritis masyarakat.

“Pendidikan akar rumput menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Proses ini melibatkan mereka dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program pendidikan,” ujar Kak Safira. Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Setelah pembicara selesai menyampaikan materi, sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berbagi pengalaman mereka terkait pendidikan berbasis komunitas. Diskusi berlangsung dinamis, dengan banyak peserta yang menyampaikan ide-ide kreatif mereka. Salah satunya adalah usulan untuk memanfaatkan media sosial sebagai platform edukasi yang lebih luas.

Kajian Himpunan “Mendidik dari Akar Rumput” tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga langkah awal untuk menciptakan aksi nyata. Dengan fokus pada pemberdayaan komunitas melalui pendidikan, acara ini membuka peluang kolaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan perubahan positif dari tingkat paling dasar. (humas)

 

Pelatihan Tari (Optimalisasi Potensi Diri Pada Seni Tari,Teori dan Praktek)

Pada 8 Juni 2023, sebuah acara pelatihan seni tari yang bertajuk “Optimalisasi Potensi Diri pada Seni Tari: Teori dan Praktik” sukses diselenggarakan di taman kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo. Kegiatan ini dihadiri oleh Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah, Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang seni tari serta menggali potensi diri melalui teori dan praktik. Kegiatan dibuka pukul 15.30 WIB

Sesi pertama pelatihan dimulai dengan pemaparan materi teori oleh Kak Adrian Amantu, seorang Koreografer/Penari UKM seni IAIN SAG. Dalam presentasinya, Kak Adrian Amantu menjelaskan bahwa seni tari bukan hanya tentang gerakan, tetapi juga tentang makna, emosi, dan budaya.

“Tari adalah medium untuk menyampaikan pesan, cerita, dan identitas budaya. Dalam proses belajar tari, kita tidak hanya mempelajari teknik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar Kak Adrian.

Beliau juga membahas berbagai jenis tari, mulai dari tari tradisional hingga tari kontemporer, serta bagaimana setiap jenis tari memiliki karakteristik unik yang mencerminkan nilai budaya tertentu. Selain itu, Dr. Budi menyoroti pentingnya pemahaman filosofi dalam seni tari sebagai landasan bagi seorang penari untuk mengekspresikan dirinya secara optimal.

Setelah sesi teori, peserta diajak untuk langsung mempraktikkan seni tari bersama Kak Adrian. Dalam sesi ini, peserta diberikan panduan dasar tentang teknik gerakan, penguasaan ritme, dan ekspresi tubuh. Praktik dimulai dengan pemanasan fisik untuk meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan tubuh. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi ini, meskipun beberapa di antaranya mengaku baru pertama kali belajar tari.

Pelatihan ini diakhiri dengan pertunjukan kolaborasi antara instruktur dan peserta, para peserta mampu menampilkan tarian tersebut dengan baik, menunjukkan semangat dan kerja keras mereka selama pelatihan. Pelatihan ini bukan hanya tentang belajar menari, tetapi juga tentang menggali potensi diri melalui seni tari. Para peserta diajak untuk mengenal lebih dalam makna di balik setiap gerakan dan bagaimana seni tari dapat menjadi medium untuk mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya.

Bagi banyak peserta, pelatihan ini memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Mereka tidak hanya belajar teknik dan teori, tetapi juga mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya seni tari dalam kehidupan. “Saya merasa lebih menghargai seni tari setelah mengikuti pelatihan ini. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara untuk mengenal diri sendiri dan budaya kita,” ungkap salah seorang peserta. Dengan keberhasilan pelatihan ini, panitia berharap seni tari semakin diminati oleh generasi muda dan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter bangsa. Seni tari, sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, memiliki potensi besar untuk menginspirasi dan membangun generasi yang percaya diri, kreatif, dan mencintai budayanya. (humas)

Kajian Pancasila: Membentuk Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Proses Pendidikan Keislaman di Era Revolusi 5.0

1 Juni 2023, sebuah acara yang penuh makna digelar di Taman Kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan tema “Pancasila dalam Membentuk Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Proses Pendidikan Keislaman di Era Revolusi 5.0”. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila dan dihadiri oleh mahasiswa  jurusan manajemen dakwah. Kegiatan dimulai pukul 15.30 WIB dengan memperkenalkan pentingnya tema kajian dalam konteks perkembangan zaman.

Kajian ini menghadirkan pembicara utama yang merupakan pakar di bidangnya. Abdul Hamid Y. Mou memaparkan bagaimana integrasi nilai-nilai Pancasila dengan pendidikan Islam dapat menciptakan generasi yang berkarakter kuat. “Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sejatinya sudah ada dalam ajaran Islam. Tantangannya adalah bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam sistem pendidikan modern, khususnya di era Revolusi 5.0 yang penuh dengan teknologi dan tantangan global,” jelas Pemateri Nurul.

Setelah pembicara menyampaikan materi, sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan memberikan pendapat mereka terkait tema yang dibahas. Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat. Banyak  yang mengungkapkan apresiasi terhadap tema yang diangkat, karena dianggap sangat relevan dengan kondisi saat ini. Beberapa peserta juga menyampaikan bahwa acara ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana Pancasila dan Islam dapat berjalan beriringan dalam membentuk karakter bangsa.

Salah satu poin utama yang menjadi sorotan dalam kajian ini adalah tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan di era Revolusi 5.0. Era ini ditandai dengan integrasi teknologi canggih dan kecerdasan buatan dalam kehidupan manusia, yang membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek, termasuk pendidikan. Kajian Pancasila ini memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya sinergi antara nilai-nilai Pancasila dan pendidikan Islam dalam membangun karakter bangsa. Di tengah tantangan era Revolusi 5.0, kajian ini mengingatkan bahwa teknologi hanya alat, sedangkan nilai-nilai luhur tetap menjadi landasan utama dalam membentuk generasi penerus. (humas)