Pada Senin, 29 Mei 2023, suasana di Aula Masjid Kampus 1 IAIN Sultan Amai Gorontalo begitu hidup dan penuh semangat. Mahasiswa Manajemen Dakwah berkumpul untuk mengikuti kajian keagamaan yang mengangkat tema “Mendulang Ibrah dari Kisah Perjalanan Imam Syafi’i Rohimahullah”. Acara ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah.
Pembicara utama dalam kajian ini adalah M. Reza Camaru, S.Pd.I. Beliau memulai dengan kisah masa kecil Imam Syafi’i, yang lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 767 M. Kehidupan Imam Syafi’i penuh dengan perjuangan. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ibunya berperan besar dalam mendidiknya. Meskipun hidup dalam kemiskinan, semangat Imam Syafi’i untuk menuntut ilmu tidak pernah surut. “Beliau telah hafal Al-Qur’an sejak usia 7 tahun dan hafal kitab Al-Muwatha karya Imam Malik di usia 10 tahun. Ini adalah bukti bahwa ilmu tidak mengenal batas usia atau kondisi sosial,” ujar M. Reza Camaru, S.Pd.I.
Selama sesi kajian, pemateri menyoroti beberapa pelajaran penting dari perjalanan Imam Syafi’i. Salah satunya adalah bagaimana Imam Syafi’i selalu menjunjung tinggi adab dalam menuntut ilmu. Beliau dikenal sangat menghormati gurunya, bahkan pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah berani membuka kitab di depan Imam Malik karena rasa hormatnya yang begitu besar. Selain itu, kajian ini juga mengungkap bagaimana Imam Syafi’i memainkan peran besar dalam perkembangan ilmu fiqih. Dengan metode istinbat hukum yang sistematis, beliau berhasil menyusun mazhab Syafi’i yang hingga kini diikuti oleh jutaan umat Muslim di berbagai belahan dunia.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak M.Reza Camaru, S.Pd.I. Suasana haru terasa ketika para peserta mengamini doa yang dipanjatkan, memohon keberkahan dan kemudahan dalam meneladani perjuangan Imam Syafi’i. Kajian keagamaan ini tidak hanya memberikan wawasan sejarah tentang salah satu tokoh besar Islam, tetapi juga menjadi momen refleksi spiritual. Perjalanan hidup Imam Syafi’i mengingatkan kita bahwa kesulitan hidup bukanlah penghalang untuk mencapai puncak prestasi, melainkan justru menjadi pendorong untuk terus berjuang.
Bagi para peserta, acara ini memberikan motivasi baru untuk memperbaiki diri, meningkatkan keilmuan, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semangat dan keteladanan Imam Syafi’i, sebagaimana yang disampaikan dalam kajian ini, diharapkan dapat terus hidup di hati umat Islam. (humas)
