
Dampak era modernitas saat ini mereduksi seluruh esensi dalam perngertian metafisik dan peran agama, kepada material dan subtansial. Dengan demikian, pandangan agama nyaris sirna dalam era modern saat ini. Namun bersamaan dengan hal itu, muncul satu femomena yang mencuat kepermukaan kehidupan modern adalah bangkitnya dimensi spiritualitas. Adalah suatu kenyataan bahwa spiritualitas semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern dewasa ini. Fenomena keagamaan ini sangat menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini terdapat pula kecenderungan “rekonsiliasi” antara nilai sufistik dengan dunia modern. Ada kecenderungan baru bahwa dimensi spritualitas yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali oleh masyarakat Barat karena kemajuan yang telah mereka peroleh dalam bidang iptek membuktikan bahwa problema yang muncul kemudian akibat kemajuan dunia global tetap saja belum terpecahkan. Kegagalan manusia modern ternyata oleh para pengamat dan khususnya futurology hampir sepakat mengatakan bahwa krisis besar yang melanda umat manusia tidak akan dapat diatasi dengan keunggulan iptek sendiri dan kebesaran ideology yang dianut oleh Negara-negara terkemuka. Ideologi sosialisme komunisme misalnya telah gagal total. Ideologi besar lainnya seperti kapitalisme liberalisme juga dianggap goyah dan rapuh, tinggal menunggu lonceng kematiannya. Di sinilah agama dilirik sebagai harapan dan benteng terakhir untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran yang mengerikan.
Antusias masyarakat dalam mencari kebutuhan spiritualitas itu, ditandai dengan adanya kajian-kajian intens keagamaan yang menjawab kegersangan hati. Ilmu tasawuf mulai digandrungi kembali, hingga banyak bermunculan “tarekat” pada masa ini terutama di wilayah perkotaan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tasawuf mengalami inovasi baru guna menjawab tantangan era modern. Kemampuan tasawuf untuk beradaptasi itulah menjadikan munculnya apa yang sering di sebut dengan Neo-Sufisme. Munculnya Neo-sufisme dalam dunia Islam tidak luput dari adanya kebangkitan agama yang menolak terhadap kepercayaan yang berlebihan kepada sains dan teknologi selaku produk era modernisme. Modernisme telah dinilai gagal dalam mengantarkan kehidupan manusia lebih baik, yang penuh dengan kepedulian dan menebarkan kasih sayang, atau bahkan efek dari modernisme tidak lagi memanusiakan manusia sebagaimana layaknya manusia adanya, justru modernisme menjauhkan kehidupan yang bermakna bagi manusia itu sendiri, maka banyak orang yang kembali pada agama sebagai institusi religiusitas. Era modern harus merapat pada agama yang mampu menjamin kehidupan penuh makna.
selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/642/508

