
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada penganutnya senantiasa berserah diri dan beristiqamah (konsisten) di jalan Allah, mengikuti tuntunan Alquran dan Sunnah Rasulullah.Istiqamah dalam agama perlu sebagai bentuk konsistensi dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan, namun tidak berarti konsistensi adalah sebuah bentuk fanatiksme agama yang berlebihan. Memang ada sebagian masyarakat muslimsecara berlebihan memahami fanatisme agama yang kemudian melahirkan kelompok-kelompok fundamentalis, radikal di mana hegemoni jihad dijadikan sebagai kekuatan dalam berbagai aksi radikal yang mereka lakukan.
Aksi-aksi teror oleh kelompok Islam radikal mengakibatkan stigma negatif muncul dari musuh-musuh Islam, bahwa Islam bukan agama kerahmatan sebagaimana yang dipahami oleh mayoritas penganutnya, Islam adalah agama teror. Begitulah salah satu alasan kelompok anti Islam yang sengaja melahirkan stigma itu untuk menyudutkan Islam. Sejak peristiwa runtuhnya World Trade Center (WTC) di Amerika 11 September 2011, genderang perang terhadap Islam yang dikemas dalam isu-isu teroris mulai digaungkan.Ada kecenderungan mereduksi pengertian teroris seakan identik dengan Islam. Setiap ada orang yang menyebut kata teror, maka yang ada dibenak kita adalah sosok Osama Bin Laden atau para teroris muslim lainnya. Dimotori oleh Amerika Serikat, propaganda gerakan anti Islamyang dikemas dalam isu terorisme bermunculan bak jamur di musim hujan. Hal ini terjadi tidak hanya di Amerika Serikat akan tetapi hingga di Eropa dan Asia, misalnya di Prancis, umat Islam diekploitasi dengan sebuah stigma dimana wanita muslim yang berhijab dan pria yang tidak berkumis menjadi obyek dan sasaran kecurigaan sebagai kelompok radikal (teroris), atau Geert Wilders seorang anggota parlemen di Belanda mengungkapkan kebenceiannya terhadap Islamyang melarang imigram dari negara muslim masuk ke Belanda, atau di Australia di Kota Bendigo Victoria yang melarang pembangunan sebuah Masjid karena dituding sebagai tempat aktivitas terorisme.
selanjutnya http://ejurnal.stainparepare.ac.id/index.php/komunida/article/view/472/357