Peran Agama Sebagai Sarana Mengatasi Frustasi dan Depresi: Sebuah Telaah Psikologis

Agama bagi sebagian besar orang menjadi kebutuhan yang paling esensial di antara kebutuhan-kebutuhan lainnya karena agama adalah kebutuhan mendasar dari manusia yangmenginginkan kedamaian dan kebahagiaan. Agama memiliki peranan vital dalam kehidupan manusia, mengatur tatanan kehidupan secara pribadi sekaligus memberikan kontribusi yang sangat meyakinkan bagi kehidupan dan tatanan struktur sosial kemasyarakat. Dilihat dari perannya, maka agama mengatur pemeluknya untuk senantiasa berada dalam rel-rel yang telah ditentukan. Sementara itu, aturan yang terdapat dalam agama (Islam) mencakup seluruh aspek kebutuhan manusia, baik manusia sebagai makhluk individu dengan bebagai kebutuhan dan egonya, maupun manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berhubungan dengan orang lain. Keyakinan terhadap agama memberikan efek bagi setiap individu karena agama mampu menggairahkan semangat hidup seseorang, meluaskan kepribadian, memperbaruidayahidup, serta mampu memberikan makna dan kemuliaan baru pada hal-hal yang biasa dalam kehidupan.

C.G. Jung, seorang psikiater Swiss mengungkapkan bahwa agama adalah jalan menuju keutuhan. Dengan demikian, tidak ada jalan lain untuk mencapai kesempurnaan pada diri seseorang sebelum ia meyakini dan menjalankan ajaran agama yang diyakininya. Ia berpendapat bahwa kita akan menemukan kualitas jiwa keagamaan yang maksimal, manakala kita melakukan aktualisasi diri atau ritual-ritual keagamaan secara mandiri (dengan khusu’), dan tidak akan diperoleh hanya dengan mengikuti ritual-ritual keagamaan secara kolektif.

Agama bagi Jung didefinisikan sebagai keterkaitan antara kesadaran dan proses psikis tidak sadar yang memiliki kehidupan tersendiri. Dengan demikian, agama baginya sangat berperan positif dalam penyembuhan dan pengembangan psikologis manusia. Agama sangat membantu seseorang dalam menemukan jati diri atau pribadinya, the self. Proses dan perkembangan untuk menemukan jati diri itulah yang disebut dengan individuasi. Ia menyebutkan bahwa ada empat arketip paling mendasar yang menunjukkan kejiwaan seseorang yang paling mendasar, yaitu persona, animus, anima, dan shadow.

selanjutnya http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/komunika/article/view/98/72

Makna “Cantik” Dari Sebuah Barbie: Antara “Ikon” Gaya Hidup Dan Komoditas

Mungkin sudah menjadi takdir, kehadiran wanita di muka bumi menjadi layak untuk diperbincangkan. Sejak kehadirannya, wanita telah mampu menarik perhatian manusia pertama di muka bumi, (nabi) Adam, untuk mengikuti ucapannya. Dalam realitasnya, tubuh wanita memang memiliki daya tarik sehingga bak magnet, menarik perhatian dan mendapatkan tempat walaupun dalam sekadar perbincangan dan pemikiran seseorang. Bila ada sekelompok laki-laki: dua, tiga, lima, atau lebih berkumpul (mulai dari angkringan, warung kopi, warung makan, sampai restoran) obrolan tentang wanita adalah sesuatu yang biasa, melengkapi, bahkan bisa menjadi topik pembicaraan utama. Demikian pula bila para wanita berkumpul, maka obrolan dan aktivitas kecantikan menjadi topik dan perilaku utama. Pengalaman dan pertukaran informasi tentang wanita akan menjadi obrolan yang tak pernah usang.

Makhluk indah bernama wanita, memang senantiasa mendapatkan tempat dan bahan perbincangan yang menarik dalam berbagai aspek kehidupan. Keberadaanya dapat menjadi inspirasi banyak kalangan, baik itu seniman, lukisan, sinetron, sastrawan, hingga menjadi inspirasi pekerjaan. Keberadaan dan pesona wanita sejak dulu sesungguhnya tidak pernah berubah. Hanya saja, karena saat ini peranan wanita menemukan tempat yang lebih bervariasi dalam aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat, maka pembicaraan tentang wanita semakin berkembang dan menemukan perannya. Lihat saja perkembangan kajian tentang feminis, emansipasi, hingga gender, yang merupakan topik-topik aktual yang melambangkan peran dan posisi wanita.

Perbincangan tentang wanita yang tidak akan pernah sirna dan senantiasa mendapatkan perhatian semua kalangan adalah tentang kecantikan. Bagaimana sesungguhnya wanita yang cantik itu? Tentu jawabannya amat sangat beragam. Sepuluh orang yang menjawab pertanyaan tersebut, maka sepuluh pula kriteria tentang cantik itu muncul. Namun kiranya dari semua pendapat tentang cantik, terdapat dua gambaran umum tentang cantik. Yaitu cantik adalah bersumber dari dalam inner beauty, dan cantik yang berasal dari luar, yang dilihat dari bentuk fisiknya.

selanjutnya http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/yinyang/article/view/221/191

Membaca “Paradigma” Pendidikan dalam Bingkai Multikulturalisme

Indonesia negara yang memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 memang memiliki keanekaragaman yang amat kompleks. Mulai dari ras dan suku yang beragam dan tersebar dalam beribu-ribu pulau yang ada, agama yang beragam, baik itu agama global (Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu) hingga agama-agama lokal, semisal Kejawen di Jawa. Bahasa, lingkungan, adat, kebiasaan, hingga makanan yang sangat bervariasi dalam wilayah Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah salah bila Indonesia disebut sebagai negara multi-budaya, multi-etnis, dan multi-agama.

Sesungguhnya, keragaman yang dimiliki oleh Indonesia tersebut bila dikelola secara benar akan menghasilkan kekuatan positif bagi pembangunan bangsa. Namun, bila tidak dimanfaatkan dan dikelola secara benar, maka kemajemukan bisa menjadi faktor destruktif dan dapat menimbulkan bencana yang dahsyat. Pertikaian di Ambon, Kupang, Sampit, Sambas, Poso, Maluku, dan beberapa tempat lainnya adalah contoh dari realitas konflik yang disebabkan karena perbedaan dalam masyarakat tersebut. Konflik tersebut terus terjadi hampir secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi bagian dari kemajemukan dan multibudaya yang tidak dikelola dengan baik. Sifat realitas kekerasan dan konflik sosial di Indonesia yang aktual sekaligus menyejarah telah membenarkan anggapan bahwa kekerasan hampir menjadi setelan mental (mind-set) kolektif, maupun individual bangsa Indonesia.

Bagi negara atau daerah yang memiliki multibudaya seperti Indonesia, konflik dan kekerasan sosial tersebut menjadi permasalahan yang cukup penting. Kondisi di Indonesia menjadi cukup memprihatinkan karena konflik dan kekerasan sosial tersebut terus berkembang mengiringi perjalanan dan perkembangan sejarah Indonesia. Upaya meredam konflik memang telah dilakukan, namun tetap saja masih terjadi. Jargon Bhinneka Tunggal Ika, adalah upaya memahami dan menghargai perbedaan yang ada yang dimiliki oleh setiap daerah, namun tetap satu dalam bingkai negara Indonesia.

selanjutnya http://www.ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/insania/article/view/375

Terapi Zikir Jama’ati Di Desa Luwoo Dan Tenggela Kabupaten Gorontalo

Zikir sebagai aktivitas ibadah sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat. Bila sebelumnya aktivitas zikir hanya dapat dijumpai sebagai ritual atau rutinitas ibadah di pondok-pondok pesantren atau masjid-masjid tertentu saja, namun kini aktivitas zikir dapat ditemukan dalam berbagai situasi atau acara tertentu, terlebih dengan hadirnya kelompok-kelompok zikir dalam kehidupan masyarakat. Zikir pun kini hadir sebagai program acara televisi yang banyak diminati berbagai kalangan. Bukan hanya dalam suasana religius saja, bahkan zikir mulai dilakukan oleh sekolah-sekolah umum khususnya tatkala menjelang ujian akhir bagi siswanya.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas zikir sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sebagian besar umat muslim, walaupun dalam setiap aktivitas zikir tersebut, tidak jarang dilakukan dengan tatacara dan lafalz yang berbeda. Tentunya perbedaan tersebut karena pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang berbeda, terlebih zikir sebagai aktivitas ibadah memang tidak seperti aktivitas ibadah sholat yang memang memiliki rukun dan bacaan yang pasti. Namun tidak jarang perbedaan-perbedaan yang terjadi juga karena faktor tradisi dan budaya pada masing-masing kelompok atau daerah.

Apabila dicermati, sesungguhnya Islam memang berpusat pada sumber yang sama yaitu Allah SWT, dengan perantara yang sama yaitu Nabi Muhammad SAW, serta kitab yang sama yaitu Al Qur’an dan Hadits. Namun, ketika sudah bersentuhan masyarakat, maka Islam akan mengalami perubahan satu dengan yang lainnya. Ritual-ritual keagamaan dalam satu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat lainnya, terlebih bila sudah bersentuhan dengan budaya setempat. Di satu sisi ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dan sifat adaptif Islam manakala bersentuhan dengan masyarakat, di mana akan menimbulkan inkulturasi1 maupun akulturasi2 antara nilai-nilai agama (Islam) dan tradisi budaya dalam kehidupan masyarakat.

selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au/article/view/98/84

Cyberdakwah Sebagai Media Alternatif Dakwah

Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang saat ini, telah menciptakan perubahan pada banyak hal. Terlebih dengan kehadiran internet, berbagai keunggulannya semakin menambah deretan perkembangan dalam dinamika kehidupan modern. Ratusan juta manusia di seluruh dunia mengakses internet setiap harinya, dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Batas-batas negara

pun memudar. Kini, tiap-tiap orang dapat bercakap-cakap secara langsung (face to face) dengan orang lain di belahan dunia mana pun dengan biaya yang sangat murah, tanpa harus berjumpa, hanya cukup dengan mengakses internet. Ratusan juta website2 yang menyediakan berbagai macam informasi eksis di dunia maya. Dengan realitas tersebut, maka akan mudah mengakses informasi apapun yang dikehendaki. Mulai dari mengakses berita, ilmu pengetahuan, hingga berbelanja semuanya bisa dilakukan melalui media ini. Semuanya tersedia, bahkan hal-hal yang semula sangat ‘‘tabu” untuk dibicarakan, maka dalam dunia internet semua menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Dalam literatur ilmu sosial (dan komunikasi), perkembangan (industri) media seringkali dikaitkan dengan perkembangan masyarakat informasi. Dalam konteks masyarakat seperti ini, media memiliki peran yang signifikan, karena menjadi sarana komunikasi efektif antarsubjek. Keberadaannya menjadi medium yang menjembatani proses komunikasi seluruh anggota masyarakat. Media ditempatkan pada posisi yang strategis, bahkan menjadi bagian kebutuhan (primer) yang tidak terbantahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam praktiknya media masuk dan memiliki relasi dengan setiap lini kehidupan, seperti: politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya, termasuk dalam gerakan dakwah. Media dalam aktivitas dakwah memang menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam keberhasilan dakwah. Dakwah merupakan sebuah  aktivitas yang dilakukan untuk memberikan pemahaman ajaran (agama Islam), sehingga pemeluknya dapat mengaktualisasikan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat. Esensi dakwah adalah bagaimana pesan yang disampaikan bukan hanya diterima, namun dipahami dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

selanjutnya http://islamica.uinsby.ac.id/index.php/islamica/article/view/132/378

Dakwah Di Tengah Komunitas Modern

Sebagai suatu aktivitas, dakwah berupaya mengubah suatu situasi tertentu kepada situasi yang lebih baik menurut ajaran Islam. Dakwah sebagai suatu kegiatan komunikasi keagamaan dihadapkan kepada perkembangan dan kemajuan teknlogi komunikasi yang semakin canggih, memerlukan suatu adapasi terhadap kemajuan itu. Artinya dakwah dituntut untuk dikemas dengan terapan media komunikasi sesuai dengan aneka mad’u (komunikan) yang dihadapi. Salah satu unsur keberhasilan dalam berdakwah adalah kepandaian seorang da’i dalam memilih dan menggunakan sarana atau media yang ada. Dalam menghadapai komunitas modern saat ini, hubungan media dan khalayak yaitu sangat urgen karena media memiliki potensi untuk membentuk berbagai isu publik (khalayak).

selanjutnya http://103.55.216.56/index.php/tabligh/article/view/5913

Marketing Politik Dalam Komunikasi Politik

Dominasi ekonomi semakin berperan penting dalam kancah perpolitikan. Perkawinan ekonomi dan politik  saat  ini  bagaikan teman satu ranjang yang  tak  dapat  dipisahkan. Politik  layaknya  industri  yang  sarat  dengan banyak kepentingan dan keuntungan semata. Kekuatan ekonomi tanpa disadari nyata berpengaruh dalam dunia politik. Kelompok yang Memiliki akses ekonomi dan politik memanfaatkan momentum pesta demokrasi sebagai ajang menghamburkan uang dengan tujuan jabatan semata. Politik sudah menjadi suatu “industri raksasa” yang butuh banyak modal untuk investasi. Konsekuensi logis yang harus diterima dari semua itu adalah hanya beberapa individu dan kelompok yang mampu dan dapat bermain dalam memenangkan transaksi demokrasi.

Pada dasarnya demokrasi dan uang adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan sehingga menjadi komoditas yang dapat mempengaruhi dalam pergolakan politik. Sejalan dengan perubahan sistem pemilihan umum, bentuk-bentuk kampanye politik turut berubah. Penggunaan marketing politik merupakan salah satu cara kampanye modern yang banyak dilakukan saat ini. Melalui survei yang dilakukan konsultan politik, parpol atau politisi bisa mengetahui perilaku pemilih, membuat pertimbangan untuk menentukan calon, membuat program kampanye, dan mengetahui hasil pemilihan lewat penghitungan cepat. Selain itu, konsultan politik bisa memoles calon atau parpol melalui kampanye pencitraan di media massa dengan iklan politiknya.

selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/777/598

Mapping Socio-Cultural of The Mad’u and Development of Dakwah in Kota Gorontalo

Pemetaan sosio kultural mad’u Kota Gorontalo dan pengembangan dakwahnya ditulis dengan  metode Penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi, budaya serta dakwah diterapkan menggunakan interview, observasi, serta dokumentasi terhadap pemerintah kecamatan/desa, Da’i, tokoh agama dan masyarakat yang dipilih. Data empiris menggambarkan lembaga-lembaga dakwah di Kota Gorontalo tidak memiliki peta dakwah.

Dakwah yang dijalankan bersifat instan, monoton, temporer dan tidak didasarkan pada dokumen rencana pengembangannya. Temuan penelitian ini menemukan karakteristik sosio kultur masyarakat Kota Gorontalo terdiri dari masyarakat industrialis dan agraris. Pengembangan dakwahnya difokuskan pada pendekatan Ahsan al-’amal di samping terus mempertahankan Ahsan al-qaul. Bentuk dakwahnya adalah tabligh, tadbir, tatwir, dan irsyad. Kegiatannya berupa ta’lim, taujih, mau’izah, nasihah, irsyad, tadbir, dan tatwir.

selanjutnya http://www.journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au/article/view/1805/1123

Efektivitas Dakwah melalui Program Kuliah Subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo

Dakwah perlu dikembangkan dengan proses perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu  secara  sistematis, yang dalam konteks modern dinamakan  manajemen  dakwah. Aktivitas dakwah salah satunya  yakni  kuliah subuh yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Kota Gorontalo. Organisasi tentu bertujuan mencapai hasil yang lebih baik dan tidak gagal. Oleh karena itu perlu terorganisir dengan yang baik. Atas dasar ini peneliti melakukan penelitian terkait efektivitas dakwah melalui program kuliah subuh yang diadakan oleh Muhammadiyah Kota Gorontalo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan dakwah, sosiologi dan manajemen. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, interview dan dokumentasi. Sedangkan keabsahan data mengunakan teknik triangulasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan proses dakwah pada program kuliah subuh Muhammadiyah Kota Gorontalo, serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat program ini.

Hasil penelitian bahwa dakwah melalui program kuliah subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Adapun program ini memiliki alur perencanaanya itu bermusyawarah dalam membentuk program kerja yang efektif dan efisien, pengorganisasian sesuai dengan struktur organisasi pada umumnya, penggerakkan dalam dakwah kuliah subuh di Muhammadiyah Kota Gorontalo ada dua bagian yakni internal dan eksternal, evaluasi secara umum suatu proses untuk menentukan atau membuat keputusan sejauh mana tujuan program yang telah tercapai. Adapun faktor penghambat hanya terdapat pada cuaca yang kurang mendukung dan alamat yang sulit untuk ditemukan, karena yang meminta orang berbeda sehingga alamat pun berbeda-beda. Adapun faktor pendukung terdapat pada komitmen para pengurus organisasi Muhammadiyah Kota Gorontalo, jamaah kuliah subuh itu sendiri dan biaya/dana, serta dari kalangan pemerintah setempat.

selanjutnya https://www.journal.walisongo.ac.id/index.php/dakwah/article/view/5219/2749

Jurnalistik Dalam Kemasan Dakwah

Dakwah Islam dalam perkembangannya mengalami dinamika yang beragam, baik yang ditentukan oleh subyek dakwah (da’i) maupun realitas obyek (mad’u) Gerakan dakwah saat ini dan yang akan datang dihadapkan pada kondisi social yang berkembang sehingga secara otomatis menuntut pola pengembangan gerakan dakwah yang sistematis, baik secara teoritis maupun secara aplikatif. Dakwah bil qalam atau dakwah dengan menggunakan pena, dalam hal ini aktifitas tulis-menulis (jurnalistik). Dakwah bil qalam selayaknya membutuhkan keseriusan bagi para da’i jika dibandingkan dengan dakwah bil lisan. Alasan utamanya adalah untuk masa sekarang ini manusia cenderung memanfaatkan media (media massa) dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan, disamping itu media tulisan dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga bisa menjangkau obyek yang banyak. Berdakwah melalui media massa (koran, majalah, dll, atau disebut juga surat kabar) mempunyai cara dan karakteristik tersendiri, berbeda dengan berdakwah pada media lainnya, Surat kabar adalah salah satu komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya. Oleh karena itu menulis pesan-pesan dakwah dalam sebuah koran maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu tulisan bemuansa dakwah itu akan dikonsumsikan kepada media apa, apakah media pers khusus Islam atau pers umum. Menulis dakwah untuk media pers khusus Islam memiliki teknik dan era yang sedikit berbeda dengan menulis di media pers UU.

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beragam media komunikasi bersaing dalam memberikan informasi tanpa batas. Dunia kini dan sedang berubah, bergulir dalam proses revolusi informasi dan komunikasi yang melahirkan peradaban baru, sehingga mempermudah manusia untuk saling berhubungan serta meningkatkan mobilitas sosial. Tak pelak, masyarakat saat ini telah berubah menjadi masyarakat yang sangat bergantung pada teknologi. Perkembangan ini tidak selalu membawa dampak positif dalam kehidupan manusia, bahkan sebagian kaum akademisi dan para pakar justru mengkhawatirkan dampak negatif yang dibawa arus kemajuan teknologi informasi saat inl. Di sisi lain, hal ini dapat menjadi media efektif untuk perbaikan atau pemaslahatan manusia ke arah yang lebih baik dan maju. Termasuk menjadi media efektif dalam pengembangan agama (Islam) atau secara khusus pengembangan dakwah. Dakwah Islam dalam perkembangannya mengalami dinamika yang beragam, baik yang ditentukan oleh subyek dakwah (da’i) maupun realitas obyek (mad’u) Gerakan dakwah saat ini dan yang akan datang dihadapkan pada kondisi social yang berkembang sehingga secara otomatis menuntut pola pengembangan gerakan dakwah yang sistematis, baik secara teoritis maupun secara aplikatif. 1 Dakwah merupakan instrumen penting bagi umat Islam saat ini, dikala manusia modem dilanda kegersangan spiritual, dekadensi moral, rapuhnya akhlak, korupsi dan manipulasi yang merajalela, ketimpangan sosial, kerusuhan, serta krisis kemanusiaan yang lainnya. Ironisnya, ranah dakwah hanya berputar-putar pada bentuk/metode dakwah melalui mimbar (bil khitabah) dan sedikit saja dakwah melalui aplikasi ajaran dalam kehidupan yang nyata (dakwah bil hal). Sementara masih sangat jarang pemberdayaan dakwah melalui tulisan (dakwah bil qalam) pada media cetak khususnya, kecuali dilakukan oleh segelintir orang saja. Padahal, efektifitas dakwah melalui tulisan sangat baik saat ini dibanding dakwah melalui mimbar, dimana manusia modern sudah semakin sulit untuk menyiapkan waktu mendengarkan ceramah agama atau dakwah mimbar.

Dakwah dengan pena bisa menjadi sebuah kekuatan Islam untuk meningkatkan pengetahuan dan pengamalan umat tentang kompleksitas ajaran. Juga dapat menjadi “pedang jihad” dalam melawan musuh-musuh Islam. Kustadi Suhandang berpendapat bahwa melalui aktifitas jurnalis, komunikator dapat mengubah sikap, sifat, pendapat dan perilaku ke arah yang diinginkan.2 Jurnalistik islami atau jurnalistik dakwah adalah proses meliput, mengolah dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam dengan mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik dan norma-norma yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.3 Jurnalistik Islami memiliki peluang strategis membangun opini masyarakat yang berorientasi pada pemberitaan tentang ajaran Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber stimulus memperbaiki aqidah, syariah dan akhlaq.4 Ini menjadi peluang bagi jurnalis Islam dalam pengembangan dakwah masa depan.

Selanjutnya http://103.55.216.56/index.php/tabligh/article/view/341/312