Analysis of Using of Social Media as Communication For Lectures At PTKIN: Case Study of Da’wa Management of IAIN Sultan Amai Gorontalo and IAIN Pare-Pare

Media sosial adalah sarana yang tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia modern saat ini, tanpa memandang usia, lokasi, profesi bahkan status. Setiap pesan dapat disampaikan dengan cepat dan tepat kepada orang lain baik jarak dekat maupun jarak pendek. Adanya wabah covid-19 ini telah memaksakan setiap manusia melakukan social distancing guna meminimalisir penyebaran virus tersebut, tak terkecuali dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus. Penelitian ini membahas media sosial yang telah lama digunakan para mahasiswa kepada dosennya di saat kegiatan kuliah daring (online) dengan menggunakan berbagai platform yang telah diarahkan oleh para dosen maupun pihak kampus yang terjadi pada mahasiswa/i Jurusan Manajemen Dakwah di dua PTKIN yakni IAIN Sultan Amai Gorontalo dan IAIN Pare-Pare.

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan media sosial selama masa perkuliahan daring yang telah terjadi satu semester terakhir sehingga akan memberikan manfaat kepada para peneliti maupun kaum intelektual untuk mendalami dan mempelajari cara yang efektif dalam penyelenggaraan kuliah daring di beberapa waktu ke depan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang terjadi di dua tempat yeng berbeda, yang kemudian peneliti mengumpulkan data-data dengan observasi, wawancara dan juga dokumentasi dengan beberapa pertanyaan terstruktur dan non terstruktur. Data-data yang telah diperoleh, dianalisa guna disajikan secara optimal oleh peneliti dengan memberikan kesimpulan dari permasalahan yang telah ditemukan.

Hasil penelitian ini bahwa penggunaan media sosial sebagai komunikasi kuliah daring di Jurusan Manajemen Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo dan IAIN Pare- Pare efektif dengan beberapa catatan terkait angka minor terhadap pengertian mahasiswa pada materi, kesenangan personal, mempengaruhi sikap, hubungan sosial diantara mahasiswa dan dosen-mahasiswa serta tindakan personal di masa pandemi Covid-19.

selanjutnya http://proceedings.uinsby.ac.id/index.php/ICONDAC/article/view/392/419

Zakat Fitrah: Management, Tradition, And Meaning Of Eidal-Fitr

Zakat sebagai sumber pendapatan negara, bagi umat Islam zakat merupakan ikatan spiritual umat manusia. Di era sekarang ini, membahas zakat yang termasuk dalam tugas negara berarti perlu meningkatkan kontinuitas dengan membantu muzakki dengan mendirikan lembaga untuk memperlancar proses penggalangan dana zakat, karena untuk itu diperlukan bantuan pemerintah dalam meningkatkan perekonomian rakyat. Urgensi tentang pengelolaan zakat, zakat fitrah dengan sistem administrasi yang baik agar persetujuan dan pengelolaan zakat dapat dipertanggungjawabkan, dengan memperhatikan aspek terpenting dari pengelolaan zakat, barang dan juga dapat berupa uang, media distribusi zakat bisa melalui masjid, yayasan sosial, dll atau langsung didistribusikan secara perorangan, baik waktu pembayaran zakat maupun saluran pembayaran zakat. Esensi zakat fitrah atas arti penting Idul Fitri begitu penting bagi kehidupan manusia. Bahwa maknanya bagi manusia yang mengajari manusia untuk berbagi dan bersedekah, memberi kebahagiaan bagi yang lemah dan tidak mampu, membuatkan makanan bagi pengunjung berupa nasi dan makanan lainnya, saling meminta nilai satu demi satu.

Selanjutnya https://www.journal.iaimnumetrolampung.ac.id/index.php/jf/article/view/978/620

Potret Dakwah Islam Di Indonesia: Strategi Dakwah Pada Organisasi Wahdah Islamiyah Di Kota Gorontalo

Sikap masyarakat, baik kelompok maupun sederhana memiliki nilai yang melembaga antara yang satu dengan lainnya yang berhubungan erat sehingga merupakan suatu sistem yaitu pedoman dari konsep ide dalam kebudayaan yang mendorong kuat terhadap arah kehidupan bagi seseorang. Salah satu sistem itu adalah agama. Agama merupakan refleksi atas iman yang tidak hanya merefleksikan sejauhmana kepercayaan agama diungkapkan dalam kehidupan agama, baik berhubungan dengan aspek sosial. Karena kehidupan merupakan segala sesuatu tindakan, perbuatan, kelakuan, yang telah menjadi kebiasaan, dan keberagamaan dapat menjadi prilaku keagamaan yang berlangsung/teks yaitu Al-Qur‟an dan Hadits.

Adanya perbedaan konsep keagamaan antar individu menyebabkan perlunya pembinaan keagamaan pada tiap-tiap anak dengan cara yang berbeda berdasarkan faktor intern dan faktor ekstern yang mempengaruhi keagamaan anak. Selain itu sifat keagamaan pada anak juga berbeda- beda. Sesuai yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak tumbuh mengikuti pola yang berkembang. Ide pada anak hampir sepenuhnya autoritarius, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian ketaatan dalam hal beragama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari para orang tua.

Dalam hal ini masalah keberagamaan dapat menjadi masalah yang selalu hadir dalam sejarah kehidupan umat manusia dan sepanjang masa.Perilaku hidup beragama yang amat luas dan terbesar ke muka bumi ini, menjadi bagian dari hidup keberdayaan yang dapat dikembangkan dalam aneka corak sosial yang berbeda. Sedangkan kehidupan keberagamaan dapat diwujudkan sebagai tindakan ataupun perilaku mengenai keyakinan dalam agama.Kesadaran agama dalam pengalaman seseorang lebih menggambarkan sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral. Dari kesadaran agama serta pengalaman keagamaan maka akan muncul sikap keberagamaan yang ditampilkan oleh seseorang.

Selanjutnya https://www.journal.iaimnumetrolampung.ac.id/index.php/jf/article/view/639/472

Strategi Takmir Masjid Dalam Meningkatkan Trust Dan Integritas Pada Masyarakat: Studi Di Desa Oluhuta Kabupaten Bone Bolango

Negeri seribu masjid begitulah julukan Indonesia di mata dunia, apalagi Indonesia menjadi sebuah negeri bermasyarakat penganut Islam terbesar di Indonesia. Hal ini menjadi pondasi pembangunan dan perkembangan budaya di Indonesia yang bernuansa Islami dari dahulu hingga masa kini. Pada hari ini masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat merupakan satu hal yang sangat dibutuhkan, karena berkaitan erat dengan kondisi negatif yang kian marak dan semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat yang disebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan serta pengalaman beragama khususnya Islam.

Kondisi rendahnya ilmu pengetahuan tentang agama serta faktor ekonomi yang sangat buruk terutama di kawasan yang kurang tersentuh oleh pemerintah. Masjid sudah menjadi ciri khas masyarakat yang berpenduduk muslim. Sejak Islam datang dan tersebar ke seluruh penjuru nusantara, masjid memiliki peranan penting untuk aktifitas umat Islam. Pada masa- masa awal Rasulullah SAW berdakwah di Kota Yastrib (Saat ini menjadi menjadi Kota Madinah) hal pertama yang beliau lakukan ialah mendirikan masjid. Rasulullah SAW mendirikan masjid pertama yang beliau beri nama Masjid Quba, ketaqwaan adalah dasar tujuan didirikannya masjid ini.

Selanjutnya http://ejournal.uin-suka.ac.id/dakwah/JMD/article/view/1719/1270

Guru Dan Penanaman Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama

Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan memiliki beragam budaya, agama, adat istiadat, ras, bahasa serta suku. Kesatuan masyarakat Indonesia diwujudkan dalam beberapa segi kehidupan bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan gugusan kepulauan yang jumlahnya dan kawasan yang begitu luas. Menurut Nur Achmad kemajemukan atau pluralitas menjadi sesuatu yang khas dan tidak bisa dipisahkan dari kemanusian itu sendiri. Kemajemukan diibaratkan halnya pelangi yang berwarna-warni.1Oleh karena itu bangsa Indonesia melalui para pendahulu telah merumuskan konsep pluralisme dan multikulturalisme kedalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, selain itu, bhineka tunggal ika dalam pengertian yang lebih luas memiliki makna untuk menyatukan bangsa yang berbeda-beda (plural), Semboyan yang digunakan untuk menggambarkan kesatuan dan persatuan yang terdiri dari beraneka ragam, ras, agama, budaya, bahasa, suku bangsa, dan kepercayaan.Selain itu manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup secara individu.

Dalam konteks pengembangan teologi inklusif dan pluralitas dalam praktek toleransi antar umat beragama, demi mengharmonisasikan agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat, Pendidikan Agama Islam sebagai media  untuk penyadaran umat Islam, sehingga di masyarakat Islam akan tumbuh pengetahuan inklusif demi harmonisasikan agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan demikian akan menghasilkan paradigma beragama yang toleran. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan proses pendidikan sejak dini. Karena pada hakikatnya ilmu pendidikan keagamaan perlu bimbingan yang baik pada  anak. Sehingga anak dapat mengatasi pebedaan.selain itu, bekal bimbingan keagamaan dapat diberikan baik di masyarakat, sekolah, maupun keluarga. peran orang tuapun juga sangat penting untuk bagaimana melakukan tugas mendidik anak, Pendidikan karakter yang diberikan orang tua di rumah sangat berpengaruh pada karakter anak. Jika orang tua tidak membekali toleransi sejak dini, maka anak dapat menyimpang dalam kekerasan dan memilih sifat egois dan anarkis berujung pada pertengkaran terhadap teman sebaya. Pemeluk Islam itu sendiri peraturan Islam sesungguhnya terdapat suatu toleransi.

Selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/pekerti/article/view/1217/921

Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Di SMA Negeri 1 Telaga Biru

Pada era globalisasi ini setiap negara di dunia saling berlomba dalam mencapai kemajuan bangsanya. Bangsa yang maju dan modern ialah bangsa yang benar-benar memperhatikan dan mengutamakan aspek pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kunci utama bagi kemajuan bangsa dan Negara. Pendidikan mempunyai posisi yang strategis dalam memperlancar dan menyukseskan program pembangunan nasional, karena pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tetapi juga ikut membentuk kepribadian bangsa. Pendidikan merupakan hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik dalam kehidupan seseorang, keluarga maupun bangsa dan negara. Bahkan maju dan mundurnya pendidikan pada suatu bangsa salah satunya ditentukan keadaaan pendidikan pada negara tersebut. Dalam hal ini sekolah merupakan sebuah lembaga pendidikan formal yang menjadi tempat untuk interaksi dari berbagai komponen. Sekolah juga merupakan tempat untuk menuntut ilmu dan tempat untuk mengubah perilaku, sifat dan tingkah laku. Ilmu pendidikan bertugas dan bertanggung jawab untuk mengubah hal bawaan negatif menjadi unsur positif yang dapat memberikan sikap yang baik. Orang yang memulai pendidikan di sekolah dapat menjadi manusia yang berkualitas dengan segala prestasi dan potensi yang dimilikinya agar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kemajuan masyarakat.

Pendidikan diperlukan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga negara menjadi maju. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan salah satu tolak ukur keberhasilannya adalah kinerja guru. Kinerja merupakan perilaku nyata yang dihasilkan guru sesuai dengan peran dalam tugass profesinya. Dengan kinerja yang baik maka guru dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas sehingga hasil belajar peserta didik pserta didik siswa meningkat. Guru dalam proses pembelajaran di kelas dipandang dapat memainkan peran penting terutama dalam mebantu peserta didik untuk membangun sikat positif dalam belajar, membangkitkan rasa ingin  tahu, mendorong kemandirian dan ketepatan logika intelektual, serta menciptakan  kondisi untuk sukses dalam belajar.

Selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/view/1113/1031

Neo-Modernisme Fazlurrahman Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam

Islam sangat mementingkan pendidikan, dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk, pada akhirnya muncullah kehidupan sosial yang bermoral. Pendidikan merupakan proses, budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan  selalu  berkembang  dan  dihadapkan  pada  perkembangan  zaman.Oleh karena itu pendidikan harus didesain mengikuti irama perubahan tersebut. Ketika pendidikan sangat begitu penting dalam menjalani kehidupan ini, pendidikan sering dijadikan tolak ukur dalam kemajuan, perkembangan dan kemajuan bagi individu maupun kelompok.Terlebih lagi terjadi di negara India sebelum adanya negara Pakistan, di anak benua tersebut pendidikan sangat tradisional dan konservatif. Artinya sekolah dan madrasah yang berada di negara tersebut masih menutup diri atau mendikotomikan ilmu sehingga kurikulum-kurikulum yang diberikan hanya satu ilmu seperti pada madrasah hanya mengajarkan pelajaran-pelajaran agama dan di sekolah hanya mengajarkan pelajaran umum. Pendidikan di negara India ini dibagi menjadi dua kelompok pertama, system pendidikan umum yang sama sekali tidak mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Kedua, system pendidikan medrasah yang mengajarkan ilmu-ilmu keislam yang murni dan tidak mengajarkan ilmu-ilmu umum. Sehingga memicu adanya permusuhan disebabkan adanya perbedaan yang seharusnya saling melengkapi antara pelajaran agama dan pelajaran umum.

selanjutnya http://www.journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/ir/article/view/532/435

Transmisi Ilmu Dalam Tradisi Islam

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang- lapanglah dalam majelis, “maka lapanglah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu,”maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al- Mujadillah:11).

Ayat ini setidaknya mengandung dua penafsiran, pertama kerelaan seseorang untuk melapangkan majelis, berlapang dada memberi tempat untuk orang lain, serta mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan sendiri. Maka Allah akan mengangkat iman dan ilmunya hingga pencapaian derajat tertinggi. Kedua yang membedakan tinggi rendahnya martabat seseorang terletak pada iman dan ilmunya. Seorang beriman akan memancarkan sinar terang, wajah bersinar dan perilaku terpuji juga memiliki moral dan akhlak mulia. Jika iman yang dimilikinya itu dilengkapi ilmu, ia bisa menjadi agung terhormat walau tanpa menyandang jabatan. Sebab iman dan ilmu saling melengkapi, iman tanpa ilmu bisa menjadikan seseorang terperosok pada kesesatan. Begitu pula sebaliknya ilmu tanpa iman akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sementara tanpa iman, ilmu dapat merusak, menghancurkan dan memusnahkan.

selanjutnya http://www.journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/view/390/307

Konsep Pendidikan Akhlak Anak Dalam Perspektif Al-Ghazali

Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak akan lepas dari kegiatan pendidikan, baik pendidikan dalam bentuk fisik maupun pendidikan dalam bentuk psikis. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam memperbaiki kehidupan sosial guna menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup masyarakat. Manusia sebagai warga masyarakat dengan berbagai lapisannya, berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga dalam hidup dan kehidupannya mempunyai tendensi kearah kemajuan dan perkembangan yang positif.

Pengertian pendidikan  secara umum mengacu pada dua sumber pendidikan Islam, yaitu Al-Quran dan Al-Hadis yang memuat kata-kata rabba dari kata kerja tarbiyah,  alama  kata  kerja  dari  talim  dan addaba dari kata ta‟dib. Ketiga istilah itu mengandung makna amat mendalam karena pendidikan adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (Insan Kamil).

selanjutnya http://www.journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/view/1132/865

Pembaharuan Dalam Tasawuf (Studi Terhadap Konsep Neo-Sufisme Fazlurrahman)

Dampak era modernitas saat ini mereduksi seluruh esensi dalam perngertian metafisik dan peran agama, kepada material dan subtansial. Dengan  demikian,  pandangan agama nyaris sirna dalam era modern saat ini. Namun bersamaan dengan hal itu, muncul satu femomena yang mencuat kepermukaan kehidupan modern adalah bangkitnya dimensi spiritualitas. Adalah suatu kenyataan bahwa spiritualitas semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern dewasa ini. Fenomena keagamaan ini sangat menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini terdapat pula kecenderungan “rekonsiliasi” antara nilai sufistik dengan dunia modern. Ada kecenderungan baru bahwa dimensi spritualitas yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali oleh  masyarakat  Barat  karena  kemajuan  yang telah mereka peroleh dalam bidang iptek membuktikan bahwa problema yang muncul kemudian akibat kemajuan dunia global tetap saja belum terpecahkan. Kegagalan manusia modern ternyata oleh para pengamat dan khususnya futurology hampir sepakat mengatakan bahwa krisis besar yang melanda umat manusia tidak akan dapat diatasi dengan keunggulan iptek sendiri dan kebesaran ideology yang dianut oleh Negara-negara terkemuka. Ideologi sosialisme komunisme misalnya telah gagal total. Ideologi besar lainnya seperti kapitalisme liberalisme juga dianggap goyah dan rapuh, tinggal menunggu lonceng kematiannya.  Di sinilah agama dilirik sebagai   harapan dan benteng terakhir untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran yang mengerikan.

 

Antusias masyarakat  dalam mencari kebutuhan spiritualitas itu, ditandai dengan adanya kajian-kajian intens keagamaan yang menjawab kegersangan hati. Ilmu tasawuf mulai digandrungi kembali, hingga banyak bermunculan “tarekat” pada masa ini terutama di wilayah perkotaan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tasawuf mengalami inovasi baru guna menjawab tantangan era modern. Kemampuan tasawuf untuk beradaptasi itulah menjadikan munculnya apa yang sering di sebut dengan  Neo-Sufisme.  Munculnya  Neo-sufisme  dalam dunia Islam tidak luput dari adanya kebangkitan agama yang menolak terhadap kepercayaan yang berlebihan kepada sains dan teknologi selaku produk era modernisme. Modernisme telah dinilai gagal dalam mengantarkan kehidupan manusia lebih baik, yang penuh dengan kepedulian dan menebarkan kasih sayang, atau bahkan efek dari modernisme tidak lagi memanusiakan manusia sebagaimana layaknya manusia adanya, justru modernisme menjauhkan kehidupan yang bermakna  bagi  manusia itu sendiri,  maka banyak  orang yang kembali pada agama sebagai institusi religiusitas. Era modern harus merapat pada agama yang mampu menjamin kehidupan penuh makna.

selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/642/508