Media dan Perubahan Sosial Budaya

Media memainkan peran penting dalam proses perubahan sosial-budaya dalam masyarakat. Dengan dukungan teknologi, media telah membantu mematahkan jarak antara makrososial dan mikrososial juga antaramakrobudaya dan mikrobudaya. Media membawa tema-tema publik ke dalam lingkungan privat tempat ia memasuki dan dipengaruhi oleh kondisi, orientasi dan kebiasaan lokal. Tulisan ini mencoba mengkaji bagaimana peran media dalam proses perubahan sosial dan budaya di masyarakat. Dapat disimpulkan, peran tersebut terletak pada kemampuan media dalam menanamkan the pictures in our heads, mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai obyek sosial.

Perubahan teknologi menempatkan komunikasi di garda paling depan  dari  perubahan  sosial. Dalam konteks mediasi teknologi media berperan dalam membentuk  cara  manusia  berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Teknologi media, layaknya sebuah struktur, membatasi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh  manusia.  Ini  terjadi  tak  lain  karena  tiap  medium  memiliki  kemampuan teknis yang berbeda dalam menyampaikan teks, suara atau gambar. Media  memiliki  implikasi  pada  keseimbangan  penggunaan  indra manusia. Misalnya  media  cetak  yang  hanya  bisa  menyampaikan  teks  dan gambar diam lebih memfungsikan indra mata. Sedangkan radio memaksimalkan fungsi indra telinga. Media   merupakan   elemen   penting   yang   menjadi   pangkal   dari   perubahan  sosial.  Media  dilihat  sebagai  kekuatan  sosial  dari  luar  yang  masuk  (atau  dimasukkan)  ke  dalam  situasi  sosial  tertentu  dan  mengakibatkan  efek  perubahan  beruntun.  Media  yang  telah  menciptakan  “Jalan  bebas  hambatan”  tidak  hanya  menciptakan  ekonomi  global,  tetapi  juga  mengaburkan  batas-batas  sosial   budaya,   karena   dunia   yang   dibangun   sekarang   ini   tidak   mungkin   dipertahankan  kedaulatan  atas  informasi,  sebab  “informasi  dan  alurnya  juga  meliputi  langit  bebas,  dipergunakan  secara  bersama-sama.  Budaya,  sebagai  identitas sebuah masyarakat, tidak luput dari pengaruh media tersebut.

Dengan  dukungan  teknologi,  media  telah  membantu  mematahkan  jarak   antara   makrososial   dan   mikrososial   juga   antara   makrobudaya dan mikrobudaya.  Media  membawa  tema-tema  publik  ke  dalam  lingkungan  privat tempat  ia  memasuki  dan  dipengaruhi  oleh  kondisi,  orientasi  dan  kebiasaan lokal.  Oleh  karena  itu  dunia  publik  telah  dibangun  kembali  dalam  zaman elektronika (media), baik secara teknologi, maupun sosial budaya. Dalam  tulisan  ini  penulis  berupaya  menyajikan  peran  media  dalam proses  perubahan  sosio-kultural,  khususnya  terkait  dengan  paradigma  media terhadap  perubahan  sosial  budaya  dan  implikasi  media  terhadap  perubahan sosial budaya.

Selanjutnya

http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/787/586

Dakwah Dan Perdebatan Soal Pluralisme

Dakwah pada dasarnya adalah sebuah aktivitas sosial yang memungkinkan bertemunya orang dengan berbagai latar sosial didalamnya. Karena sifatnya sebagai sebuah aktivitas sosial, maka pluralitas menjadi sebuah keniscayaan dalam dakwah. Meskipun demikian, pluralisme sebagai sebuah kenyataan terkadang menjadi masalah dalam masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan permasalahan antara dakwah dan pluralism dengan pokok bahasan tentang pluralisme, realitasnya dalam sejarah dakwah Islam, serta sikap yang harus dikembangkan dalam menyikapinya. Kajian dalam artikel ini menemukan bahwa pluralisme secara umum dimaknai sebagai keragaman dalam berbagai aspek kehidupan termasuk agama yang diyakini bersumber dari satu sumber meskipun hal ini menimbulkan kontroversi.

Secara historis Islam mengakui realitas pluralisme agama. Fakta ini memperlihatkan bahwa dalam Islam perbedaan keyakinan bukanlah halangan untuk mengelola kehidupan sosial bersama-sama sebagai satu bentuk penerimaan terhadap pluralisme agama. Beberapa  sikap yang  harus  dikembangkan  untuk  dapat  menerima  realitas pluralisme agama dalam kehidupan sehari-hari  antara  lain  melalui  dialog  antar agama, melakukan aktivitas “passing over” dan ”coming back”, atau melakukan upaya peningkatan wawasan multikulturalisme kepada seluruh elemen masyarakat. Semua hal ini bisa dilakukan melalui medium dakwah Islamiyah yang dengan beragam pendekatannya, telah menjadi gerakan sosial keagamaan Islam yang masif dan mampu menjangkau seluruh aspek kehidupan masyarakat Islam.

selanjutnya https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/komunike/article/view/2237/1191