
Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan memiliki beragam budaya, agama, adat istiadat, ras, bahasa serta suku. Kesatuan masyarakat Indonesia diwujudkan dalam beberapa segi kehidupan bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan gugusan kepulauan yang jumlahnya dan kawasan yang begitu luas. Menurut Nur Achmad kemajemukan atau pluralitas menjadi sesuatu yang khas dan tidak bisa dipisahkan dari kemanusian itu sendiri. Kemajemukan diibaratkan halnya pelangi yang berwarna-warni.1Oleh karena itu bangsa Indonesia melalui para pendahulu telah merumuskan konsep pluralisme dan multikulturalisme kedalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, selain itu, bhineka tunggal ika dalam pengertian yang lebih luas memiliki makna untuk menyatukan bangsa yang berbeda-beda (plural), Semboyan yang digunakan untuk menggambarkan kesatuan dan persatuan yang terdiri dari beraneka ragam, ras, agama, budaya, bahasa, suku bangsa, dan kepercayaan.Selain itu manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup secara individu.
Dalam konteks pengembangan teologi inklusif dan pluralitas dalam praktek toleransi antar umat beragama, demi mengharmonisasikan agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat, Pendidikan Agama Islam sebagai media untuk penyadaran umat Islam, sehingga di masyarakat Islam akan tumbuh pengetahuan inklusif demi harmonisasikan agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan demikian akan menghasilkan paradigma beragama yang toleran. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan proses pendidikan sejak dini. Karena pada hakikatnya ilmu pendidikan keagamaan perlu bimbingan yang baik pada anak. Sehingga anak dapat mengatasi pebedaan.selain itu, bekal bimbingan keagamaan dapat diberikan baik di masyarakat, sekolah, maupun keluarga. peran orang tuapun juga sangat penting untuk bagaimana melakukan tugas mendidik anak, Pendidikan karakter yang diberikan orang tua di rumah sangat berpengaruh pada karakter anak. Jika orang tua tidak membekali toleransi sejak dini, maka anak dapat menyimpang dalam kekerasan dan memilih sifat egois dan anarkis berujung pada pertengkaran terhadap teman sebaya. Pemeluk Islam itu sendiri peraturan Islam sesungguhnya terdapat suatu toleransi.
Selanjutnya http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/pekerti/article/view/1217/921