Pada hari Senin, 19 September 2022, Jurusan Manajemen Dakwah menggelar Pelatihan Da’I & Daiyah yang bertemakan “Strategi Dakwah dan Peran Da’i Daiyah dalam Meningkatkan Nilai Keagamaan di Masyarakat”. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 peserta ini berlangsung di Aula Utama Fakultas Dakwah. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan kepada Da’i dan Daiyah dalam menjalankan tugas dakwah mereka dengan pendekatan yang lebih relevan dengan tantangan zaman modern.
Dalam era globalisasi yang serba cepat ini, tantangan dakwah semakin besar, sehingga penting bagi para Da’i dan Daiyah untuk mempersiapkan diri dengan baik, memiliki pemahaman yang luas, serta keterampilan yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwah. Kegiatan ini menjadi ajang untuk membekali mereka dengan pengetahuan tentang bagaimana cara berdakwah yang efektif di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Pembukaan yang Menginspirasi dan Penuh Makna
Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan sambutan hangat dari Dekan FUD, Dr. Adres Kango Dalam pidatonya, mengingatkan bahwa dakwah tidak hanya terbatas pada penyampaian pesan agama melalui ceramah, tetapi juga mencakup cara kita berinteraksi dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah yang baik adalah dakwah yang mampu mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat menuju kebaikan.
“Kami berharap melalui pelatihan ini, para Da’i dan Daiyah yang hadir dapat menguasai strategi dakwah yang efektif, memanfaatkan media digital dengan bijak, dan yang paling penting adalah memiliki sikap empati dan memahami kebutuhan masyarakat dalam menyampaikan pesan agama,” ujar kajur manajemen Dakwah
Materi Pertama: Strategi Dakwah di Era Digital
Setelah pembukaan, sesi pertama dimulai dengan pembahasan mengenai “Strategi Dakwah di Era Digital”. Materi ini disampaikan oleh Dr. Fahmi Hidayat, seorang pakar dakwah digital yang telah berpengalaman dalam mengelola platform dakwah di dunia maya. Muahammad jihad firman memaparkan berbagai teknik dan strategi dakwah yang bisa dilakukan melalui media sosial, seperti Instagram, YouTube, dan TikTok, untuk menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda.
“Dakwah tidak hanya berlangsung di masjid atau majelis taklim, tetapi kini dapat dilakukan melalui media sosial yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi Da’i dan Daiyah untuk memanfaatkan teknologi secara bijak agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” kata try salsa, mahasiswa manajemen dakwah.
Dr. Andres Kango juga memberikan tips tentang bagaimana membuat konten dakwah yang menarik dan mudah dipahami oleh audiens. Ia mengingatkan bahwa, meskipun media digital bisa menjadi sarana yang efektif, penggunaan media tersebut harus selalu diimbangi dengan nilai-nilai agama yang benar dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Peran Da’i dan Daiyah dalam Meningkatkan Nilai Keagamaan di Masyarakat
Sesi berikutnya membahas “Peran Da’i dan Daiyah dalam Meningkatkan Nilai Keagamaan di Masyarakat”, yang dipandu oleh Haniyah Rasyid, seorang praktisi dakwah yang telah lama bekerja dalam program-program pemberdayaan masyarakat. Haniyah menjelaskan bahwa sebagai Da’i dan Daiyah, mereka memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masyarakat yang lebih baik dengan mengedepankan nilai-nilai keagamaan.
“Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari seberapa sering kita berbicara di hadapan banyak orang, tetapi lebih kepada seberapa besar dampak yang kita berikan kepada kehidupan mereka. Dakwah yang efektif adalah dakwah yang bisa mengubah pola pikir dan tindakan seseorang menjadi lebih baik,” ujar kajur manajemen dakwah
Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk memahami pentingnya pendekatan yang humanis dan kontekstual dalam berdakwah. Mereka diberikan pemahaman bahwa dakwah tidak hanya mengajarkan teori agama, tetapi juga memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan kesenjangan pendidikan.
Sesi Praktik Dakwah: Menyampaikan Pesan dengan Efektif
Setelah mendalami teori dan strategi dakwah, para peserta diberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan mereka dalam sesi praktik. Sesi ini melibatkan peserta untuk menyampaikan ceramah atau presentasi dakwah di hadapan kelompok kecil. Mereka diberikan tema tertentu untuk disampaikan, yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan keagamaan yang ada di masyarakat.
Setiap peserta diberi kesempatan untuk berbicara selama beberapa menit, dan kemudian mendapatkan umpan balik dari fasilitator serta peserta lainnya. Beberapa peserta menunjukkan keterampilan berbicara yang sangat baik, sementara yang lainnya diberikan saran untuk memperbaiki cara mereka dalam menyampaikan pesan dakwah, baik dari segi teknik berbicara, bahasa tubuh, maupun penyusunan materi.
“Sesi praktik ini sangat penting karena memberikan pengalaman langsung bagi kami untuk menerapkan apa yang telah dipelajari. Kami jadi lebih percaya diri dan bisa mengetahui area mana yang perlu diperbaiki dalam menyampaikan dakwah,” kata salah seorang peserta, Rina, mahasiswa Fakultas Dakwah.
Pentingnya Sinergi antara Da’i, Daiyah, dan Masyarakat
Salah satu poin yang sangat ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya sinergi antara Da’i, Daiyah, dan masyarakat. Dalam dakwah, seorang Da’i atau Daiyah tidak hanya bertindak sebagai penyampai pesan agama, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang harus mampu memahami dan merespons tantangan yang ada.
“Seorang Da’i dan Daiyah harus mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat. Tugas kita bukan hanya untuk mengajarkan agama, tetapi juga memberikan perhatian terhadap masalah sosial yang ada. Ketika kita berhasil memahami kebutuhan masyarakat, dakwah kita akan lebih mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka,” ungkap Haniyah dalam sesi diskusi.
Sesi Tanya Jawab dengan Alumni Dakwah
Di penghujung acara, sesi tanya jawab dengan beberapa alumni yang telah terjun di dunia dakwah menjadi momen yang sangat dinantikan. Alumni seperti Adi Pratama, seorang aktivis dakwah, dan Mufidah, seorang pengelola lembaga dakwah, berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan dakwah di lapangan.
“Kami banyak menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakpahaman masyarakat terhadap nilai-nilai agama atau bahkan adanya penolakan terhadap dakwah. Namun, kami selalu berusaha untuk berbicara dengan hati dan pendekatan yang lebih manusiawi. Hal ini sangat membantu dalam mengurangi resistansi masyarakat terhadap dakwah,” ungkap heri, mahasiswa MD
Sesi ini sangat berguna bagi para peserta yang ingin lebih memahami tantangan nyata dalam dakwah di lapangan dan mendapatkan inspirasi serta motivasi untuk terus berkarya.














