6 Oktober 2024, Departemen Kajian Keperempuanan Himpunan Mahasiswa Universitas Islam Jakarta menyelenggarakan diskusi bertajuk “Pengaruh Media Sosial Terhadap Identitas dan Kesehatan Mental Perempuan”. Acara ini bertujuan untuk mengupas bagaimana penggunaan media sosial yang intensif memengaruhi pembentukan identitas diri perempuan serta dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Dengan mengundang akademisi, praktisi, dan aktivis perempuan sebagai pembicara, kajian ini menjadi ajang refleksi kritis sekaligus pemberdayaan perempuan di era digital.
Kegiatan yang diadakan di taman kampus IAIN SAG tersebut dihadiri mahasiswa. Dengan kegiatan ini berhasil menggugah kesadaran akan tantangan yang dihadapi perempuan di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin masif.
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Perempuan, khususnya, merupakan salah satu pengguna terbesar berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter. Meski menawarkan banyak peluang untuk ekspresi diri dan komunikasi, media sosial juga membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal pembentukan identitas dan kesehatan mental.
Dalam diskusi, Pemateri menyoroti bagaimana media sosial sering kali memperkuat budaya perbandingan di kalangan perempuan. “Kita perlu memahami bahwa apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Sebagai perempuan, kita harus lebih kritis terhadap konten yang kita konsumsi dan fokus pada apa yang benar-benar penting untuk diri kita,” katanya.
berbagi pengalaman pribadinya sebagai content creator. Ia mengakui bahwa tekanan untuk selalu terlihat sempurna di media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental. “Saya pernah berada di titik di mana saya merasa harus terus mengikuti standar tertentu untuk diterima di dunia maya. Tapi sekarang saya belajar untuk lebih autentik dan memprioritaskan kesejahteraan saya,” ungkapnya.
Sesi tanya jawab yang diadakan di akhir acara menjadi momen yang sangat interaktif. Peserta, mahasiswi, menyampaikan berbagai pertanyaan dan pengalaman pribadi mereka terkait pengaruh media sosial.
“Kami berharap para peserta, khususnya perempuan, dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Kita harus bisa memanfaatkan teknologi ini untuk pemberdayaan, bukan untuk membebani diri kita dengan standar yang tidak realistis,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, HMJ juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan di era modern. Acara ini menjadi langkah nyata dalam mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sekaligus menguatkan identitas perempuan yang autentik di tengah era digital. Dengan respons positif dari peserta, kajian ini membuktikan bahwa isu keperempuanan di era digital sangat relevan untuk diangkat. Harapannya, perempuan Indonesia dapat semakin percaya diri, kritis, dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman. (humas)









